Page One: Inside The New York Times

0 comments

Pers atau media lazim diasosiasikan sebagai pilar keempat demokrasi, seperti yang diutarakan oleh Thomas Carlyle pada tahun 1840. Pendapat ini dikuatkan ketika dua reporter The Washington Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, berhasil menguak skandal Watergate di tahun 1970an. Pemberitaan ini akhirnya memaksa Presiden Richard Nixon untuk lengser keprabon.

Selain The Washington Post, dunia pers Amerika Serikat juga memiliki The Wall Street Journal, USA Today, dan The New York Times. Ketiganya adalah langganan juara Pulitzer, meski dari segi jumlah, The New York Times mendominasi dengan perolehan 106 Pulitzer.

Walau dunia mungkin lebih familiar dengan skandal Watergate, tak berarti The New York Times luput untuk melakukan reportase serupa. Mereka pernah menerbitkan reportase atas Pentagon Papers di tahun 1971, yang merupakan dokumen rahasia pemerintah AS mengenai keterlibatan AS di perang Vietnam.

Dengan rekor Pulitzer terbanyak dan reportase investigatif yang menghebohkan, bisa dikatakan The New York Times adalah salah satu koran yang paling berpengaruh di AS, dan mungkin juga di dunia. Reputasi ini kemudian diangkat menjadi sebuah film dokumenter berjudul Page One: Inside The New York Times.

Adegan Page One diawali dengan cuplikan berbagai berita televisi mengenai bubarnya koran-koran di Amerika Serikat. Tak sedikit dari mereka yang bahkan sudah terbit selama ratusan tahun—Rocky Mountain News telah berumur 150 tahun hingga edisinya yang terakhir.

Film ini berlanjut dengan kisah terkini dan keseharian The New York Times. Misalnya, penentuan berita di halaman depan; pengaruh Wikileaks dalam ppemberitaan The New York Times; wawancara dengan Julian Assange; upaya mereka untuk beradaptasi dengan media-media baru seperti Twitter, Facebook, dan blogger; penurunan jumlah iklan; kebijakan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja atau layoff; hingga skandal di dalam The New York Times itu sendiri.

Berbagai hal krusial ini disajikan melalui wawancara dengan jurnalis-jurnalis The New York Times seperti David Carr, Bruce Headlam, Brian Stelter, Tim Arango, hingga redaktur seperti Bill Keller dan Jill Abramson. Pendapat dari pengamat hingga praktisi media lain juga diikutsertakan dalam film ini.

Meski demikian, film ini tidak terfokus pada masalah tertentu yang sedang dihadapi oleh The New York Times. Dengan permulaan adegan film yang berisi cuplikan berita mengenai banyaknya koran AS yang tutup, Page One bisa dipersepsikan—pada awalnya—sebagai film yang mendokumentasikan upaya The New York Times dalam menghadapi kebangkrutan dan upayanya beradaptasi dengan media-media baru.

Namun, cerita kemudian berpindah ke pengaruh Wikileaks dalam pemberitaan di The New York Times. Jurnalis-jurnalis The New York Times menjelaskan perbedaan Wikileaks pada saat ini dengan Deep Throat, sumber anonim di skandal Watergate; dan Daniel Ellsberg, yang menjadi sumber bocornya The Pentagon Papers di tahun 1971.

Brian Stelter, salah satu jurnalis The New York Times, menjelaskan bahwa Wikileaks tak perlu menghubungi The New York Times agar informasi yang mereka peroleh bisa dipublikasikan. Informasi itu, oleh Wikileaks, justru diunggah ke situs YouTube, tanpa ada proses edit selayaknya berita dalam sebuah koran.

Belum selesai mengenai isu Wikileaks, Page One menyajikan liputan David Carr tentang tren yang ada di industri media AS. Mulai dari kolaborasi CNN dengan Vice, Comcast yang akan membeli NBC. Kemudian, Page One beralih ke isu mengenai Twitter sebagai salah satu jaringan sosial yang berperan dalam media baru.

Penyajian yang diberikan Page One mengenai The New York Times memang tidak terlalu memuaskan. Tidak ada satu isu yang cukup dibahas secara mendalam, seperti penetrasi internet yang berdampak pada oplah The New York Times. Hal ini menyebabkan jalinan cerita dalam Page One hanya sepotong-sepotong, dan tidak memberikan gambaran yang cukup jelas dan menyeluruh mengenai kesulitan The New York Times saat ini.

Page One juga luput untuk memberikan tayangan memuaskan tentang bagaimana para redaktur The New York Times berdebat untuk menentukan berita apa yang layak ditempatkan pada bagian A1—halaman paling depan di The New York Times.

Meski demikian, Page One tetap memiliki nilai tambah karena upayanya untuk mengoleksi berbagai permasalahan dalam industri media pada saat ini. Meski media Indonesia tidak bisa dibandingkan secara apple-to-apple dengan media AS, apa yang ditayangkan dalam Page Onebisa dijadikan sebagai referensi bagi para praktisi media untuk bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan tren media pada saat ini.

Director: Andrew Rossi | Starring: David Carr, Bruce Headlam, Richard Perez-Pena, Tim Arango, Bill Keller, Brian Stelter | Release Date: 17 Juni 2011 (Amerika Serikat) | Running Time: 96 menit

Tanda Tanya (2010)

0 comments
Sebagai bangsa yang meletakkan dirinya di “timur”, Indonesia seringkali membuat pembenaran untuk menabukan sesuatu. Membicarakan agama, seks, suku, dan lainnya, seakan haram. Senjata utamanya, “Kita adalah orang timur. Harus menjaga norma-norma dan nilai-nilai.”

Masalah “timur” atau “barat” adalah hal lain. Yang nampaknya asik untuk dibicarakan adalah agama. Dengan kelamin Indonesia yang tak jelas, isu agama memang seksi. Seksi yang di satu sisi menguntungkan, tetapi juga bisa mematikan.

Hal inilah yang nampaknya ingin diangkat oleh Hanung Bramantyo. Melalui film “?” (Tanda Tanya), Hanung mengangkat isu perbedaan agama dalam masyarakat.

Film Tanda Tanya diawali dengan adegan penusukan Pastur di depan gereja, oleh seorang yang tidak dikenal. Tragedi ini kemudian dikecam oleh Walikota Semarang, yang menyatakan bahwa tidak ada unsur sentimen negatif keagamaan dalam kasus penusukan itu. Kasus itu sepenuhnya adalah kejahatan.

Kemudian, film ini bercerita mengenai tiga keluarga, yang masing-masing berbeda agama. Keluarga Rika, perempuan yang baru saja pindah dari Islam menjadi Katolik. Ia bercerai dari suaminya, dan menjadi single parent untuk anak laki-lakinya. Tetapi, anak laki-lakinya masih beragama Islam, bahkan masih rutin belajar membaca Al-Quran.

Keluarga Tan Kat Sun beragama Konghucu, yang memiliki restoran masakan Cina. Tentunya restoran ini menjual sajian yang mengandung babi. Tetapi, mereka tetap menjual masakan yang tidak mengandung babi, yang proses memasaknya dipisah, mulai dari wajan hingga sendok-garpu. Malah beberapa pegawainya beragama Islam.

Keluarga Soleh, yang merupakan muslim taat. Soleh, sang kepala keluarga, memiliki permasalahan dengan statusnya sebagai pengangguran. Belakangan, dia diterima sebagai salah satu anggota GP Ansor Nahdlatul Ulama.

Ketiga keluarga ini berinteraksi di salah satu sudut kota Semarang. Kebetulan, di wilayah mereka terdapat masjid, gereja, dan klenteng. Film ini kemudian menceritakan bagaimana masing-masing individu berurusan dengan agamanya dan pandangan masyarakat terhadapnya.

Upaya Hanung ini bukan hal yang baru. Upaya serupa pernah dilakukan penggiat sineas independen melalui film “Cin(t)a”, di tahun 2009. Bedanya, Hanung mengangkat isu ini ke arah yang lebih luas. Karena dia menyorot bagaimana hubungan berbeda agama antara individu dengan masyarakat, bukan seperti “Cin(t)a” yang lebih menekankan pada hubungan cinta dua individu.

Hal ini, dapat dilihat dari karakter Rika, yang pindah agama menjadi Katolik. Dia dijauhi oleh orang tuanya, bahkan sempat bertengkar kecil dengan anak laki-lakinya. Lain hal dengan Engkoh Tan, yang beragama Konghucu, dan memiliki pegawai beragama Islam. Dia berupaya menunjukkan bahwa umat berbeda agama bisa bertoleransi satu sama lain.

Meski mengangkat isu perbedaan agama, dan bermaksud sangat baik, tetapi Hanung luput untuk mengelaborasi beberapa hal. Yang menurut saya, bisa membuat orang menjadi salah paham, dan mengabaikan nilai baik yang diusung oleh Hanung.

Pertama, alasan Rika untuk pindah agama. Sebagai elemen yang penting, seharusnya hal ini digali sedikit lebih banyak. Apa kejadian yang menjadikan Rika untuk pindah agama, atau titik tertentu yang menjadi sangat substansial. Sayangnya, Hanung hanya menunjukkan adegan ketika Rika memeluk anaknya sambil menangis, dan suaminya menyatakan bahwa dia mencintai wanita lain. Adegan itu bisa saja disalahartikan, Rika berpindah agama hanya karena suaminya selingkuh, atau tidak rela dipoligami, atau alasan lain. Sampai akhir film, masih belum jelas mengapa sesungguhnya Rika berpindah agama.

Kedua, alasan Hendra untuk berpindah agama pun tidak elaboratif. Dia memilih untuk menjadi Islam sesudah ayahnya meninggal. Padahal ayahnya sekarat karena dipukul Soleh secara tak sengaja. Dan visualisasi kepindahan Hendra, hanya karena dia melihat anak-anak yang sedang belajar membaca Al-Quran.

Ketiga, penggambaran Katolik dan Konghucu yang menjadi korban. Penusukan pastur di depan gereja, perusakan restoran milik keluarga Engkoh Tan, hingga adanya bungkusan bom di dalam gereja. Dengan demikian, Hanung mengaminkan bahwa tindakan umat Islam masih diskriminatif terhadap umat lain hingga saat ini.

Salah satu yang menarik dalam film ini adalah Agus Kuncoro sebagai Surya. Meski terkesan komikal, tetapi kehadiran karakter ini memberikan hiburan yang tidak norak, bahkan cenderung reflektif.

Sesungguhnya, film ini memang menggambarkan realita Indonesia sehari-hari. Indonesia memiliki kelamin yang tidak jelas, karena posisinya yang tidak tegas mengenai agama. Negara ini bukanlah negara agama, tetapi bukan juga negara sekuler. Negara agama mendasarkan praktik kenegaraannya kepada salah satu agama dan memasukkan nilai-nilai keagamaan dalam hukum positifnya. Negara sekuler memisahkan urusan agama dan kenegaraan, dan agama sepenuhnya menjadi urusan individu warga negara.

Indonesia adalah negara beragama. Tidak ada salah satu agama yang dijadikan dasar kenegaraan. Tetapi tidak ada juga pemisahan yang jelas antara urusan negara dengan agama. Apalagi dengan adanya Kementerian Agama, yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan agama. Termasuk juga dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 8 & 9 Tahun 2006 yang pasal-pasalnya mengatur soal pembangunan rumah ibadah.

Tetapi, terlepas dari opini saya, upaya Hanung tetap wajib diacungi jempol. Dia ingin mengangkat sebuah isu yang sering dianggap tabu untuk dibicarakan, perbedaan agama. Perbedaan yang sayangnya seringkali memecah-belah Indonesia. Perbedaan yang justru menegasikan “Bhinneka Tunggal Ika” yang dipegang erat oleh Sang Garuda.

Sutradara: Hanung Bramantyo | Pemeran: Revalina S. Temat, Reza Rahadian, Agus Kuncoro, Hengky Solaiman, Endhita, Rio Dewanto | Rilis: 7 April 2011

Dogma (1999)

0 comments

Dogma (1999)

SPOILER ALERT!!

Saya melihat film ini secara tak sengaja di sebuah situs penyedia tautan film yang dapat diunduh secara gratis. Pada awalnya, saya mengira film ini adalah film horror-semi-supernatural-semi-relijius seperti Stigmata atau End Of Days. Tetapi ketika melihat informasi singkat di Internet Movie Database (IMDB) dan Wikipedia, saya terkejut ketika mengetahui film ini malah terkategori sebagai film komedi.

Film komedi tentang agama dan ketuhanan? This is gonna be good.

Dogma bercerita tentang seorang pekerja di klinik aborsi, Bethany Sloane (Linda Fiorentino), yang ditugaskan oleh Metatron (“The Voice of God”, Alan Rickman) untuk mencegah dua malaikat kembali ke surga. Kedua malaikat ini, Bartleby (Ben Affleck) dan Loki (Matt Damon) mendapatkan hukuman dari Tuhan karena lalai menjalankan tugasnya. Hukumannya bukanlah berganti sisi ke neraka dan memihak Lucifer, tetapi selamanya berada di Bumi dan tak bisa kembali ke surga.

Malaikat-malaikat ini kemudian menemukan "loophole" dalam dogma Katolik, yang dapat membuat mereka kembali ke surga. Sayangnya, celah yang akan mereka manfaatkan, akan membuat dunia musnah. Karena celah ini menegasikan sifat Tuhan yang "tak dapat gagal".

Upaya pencegahan ini tentunya menemukan hambatan. Apalagi kedua malaikat itu didukung oleh Azrael (Jason Lee) dari pihak Lucifer dan ketiga anak buahnya.

Bethany sempat meragukan tugas yang diembannya, karena ia merasa tidak relijius. Apalagi pekerjaannya di klinik aborsi membuatnya semakin jauh dari isu-isu keagamaan. Namun dengan bantuan dua "nabi" yang diinformasikan Metatron, Rufus (Chris Rock)--seorang murid Yesus ke-13--yang mengklaim dirinya tidak tercatat dalam Alkitab karena berkulit hitam—dan mengklaim Yesus pun berkulit hitam, dan Serendipity (Salma Hayek)--seorang Muse--yang bertugas sebagai inspirasi.

Upaya ini akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, Tuhan sendiri--yang ternyata berwujud wanita--langsung hadir saat kedua malaikat itu digagalkan oleh Linda untuk kembali ke Surga.

Well, well, well...

Saya selalu menyukai film komedi satir. Terutama yang mengambil agama dan ketuhanan sebagai isu sentralnya. Apalagi ketika film itu berusaha untuk melawan paradigma yang telah diterima secara umum. Misalnya, Tuhan yang selalu diidentifikasikan sebagai pria (He, His, Him)--di wilayah dengan kosakata yang mengenal perbedaan vokabulari feminin dan maskulin--justru digambarkan sebagai seorang wanita.

Ya, tentu kita tidak bisa menentukan jenis kelamin dari Tuhan. Tapi sungguh mengherankan ketika manusia, dengan ketidakmampuannya itu, justru menyatakan Tuhan sebagai pria dan menafikan kemungkinan Tuhan sebagai wanita. Penyebutan Tuhan sebagai pria di berbagai wilayah dan agama, telah mengabaikan peran wanita, dan tentunya menjadi bias gender.

Padahal, kalau kita sadari, berbagai sebutan yang kita dengar sehari-hari justru menggunakan istilah "ibu" bukannya "bapak". Jempol adalah IBU jari, bukan BAPAK jari. Negara atau provinsi, memiliki IBU kota bukan BAPAK kota. Bahkan dunia komputer pun mengenal MOTHER board, bukan FATHER board.

Film dengan bentuk seperti ini seakan menjadi oase di tengah negara dengan kadar kemunafikan yang sangat tinggi, Indonesia. Di Indonesia, agama seakan menjadi barang yang begitu haram untuk ditertawakan. Semua orang harus memiliki agama, dan mencantumkannya di dalam KTP--sebuah hal yang sangat tidak urgen jika dibandingkan dengan, sebagai alternatif, pencantuman golongan darah.

Negara menentukan agama-agama mana saja yang boleh disebarkan di Nusantara ini. Sehingga menegasikan bentuk-bentuk agama lain, entah itu yang lahir dari perkembangan masyarakat adat lokal Indonesia, ataupun agama-agama yang muncul dari luar wilayah Nusantara. Masyarakat "dipaksa" untuk memeluk satu dari enam agama yang diakui secara "resmi". Kondisi ini diperparah dengan kemunafikan melalui SKB menteri yang membuat pendirian rumah ibadah harus didukung dengan adanya izin--hal yang sangat bodoh, karena kenyataannya pendirian rumah ibadah agama tertentu tak memerlukan izin sama sekali.

Yang lebih menyebalkan, sekelompok orang yang membawa nama agama dalam organisasinya, membubarkan berbagai acara lintas keagamaan, bahkan acara agama tertentu. Mereka merasa dirinya sebagai "malaikat" yang berhak untuk menghakimi orang yang tidak beridentitas sama seperti dirinya, dan bertindak seperti aparat yang memiliki kewenangan yang dimandatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Film-film seperti ini hendak mengajarkan, bahwa agama sebagai label, tidaklah perlu dianggap terlalu serius. Apalagi menjadi alasan utama perpecahan di dalam masyarakat itu sendiri. Konsep agama dan ketuhanan adalah sesuatu yang bersifat personal. Tidak ada ide utama yang bisa diterapkan dengan cara yang sama kepada setiap orang. Dengan demikian, tidak ada satupun orang yang berhak untuk melarang pihak lain memeluk agama tertentu, ataupun melaksanakan ibadah sesuai agamanya--hal yang secara eksplisit dicantumkan dalam konstitusi Indonesia, dan ironisnya, secara eksplisit pula dilanggar oleh Negara.

Film ini pun hendak mengajarkan, seandainya kita percaya pada eksistensi Tuhan--yang mana, tidak semua orang bisa menerima ide ini--tak selayaknya eksistensi itu dibatasi oleh ritual-ritual, dan organisasi keagamaan. Tentu sudah kita ketahui, ritual dan organisasi itu adalah ciptaan manusia, yang tak lepas dari kesalahan. Lebih jauh, ritual dan organisasi itu tak jarang merupakan hasil dari kekuasaan yang hendak melanggengkan kekuasaannya lebih lama.

Sayangnya, film seperti ini akan mendapatkan resistensi yang sangat tinggi di negara munafik ini. Dengan mengklaimdirinya sebagai orang yang paling beragama dan paling relijius, banyak pihak merasa berhak untuk menyatakan film ini tidak layak tampil, bersifat penghinaan, kafir, hingga tuduhan pemurtadan.

Jika kita tak bisa menertawakan kepercayaan atau agama yang kita anut secara personal, toleransi antar umat beragama hanya akan menjadi ide utopis yang entah kapan akan terwujud--dan kampanye yang menampilkan kebencian akan terus berlangsung.

Director : Kevin Smith | Starring : Ben Affleck, Matt Damon, Chris Rock, Alan Rickman, Linda Fiorentino, Salma Hayek, Alanis Morrissette | Release Dates : 12 November 1999 | Running Time : 130 minutes

The Tourist (2010)

0 comments

The Tourist (2010)

SPOILER ALERT!

Sudah lama ya? Ya. Sudah sangat lama semenjak saya menampilkan ulasan atas film, buku, atau musik. Tulisan terakhir dalam blog ini tertanggal Januari 2010. Hampir setahun lalu. Kemana saja? Yea, shit happens.

Anyway...

Baru beberapa minggu belakangan ini saya kembali sempat menonton film. Ada beberapa alasan : 1) saya sudah memiliki rekan untuk mengantri dan menikmati ruang gelap di bioskop; 2) saya mendapatkan koneksi internet yang lebih mumpuni ketimbang Sp**dy. Ada beberapa film yang patut mendapatkan perhatian khusus, salah satunya adalah The Tourist, rilisan tahun 2010, yang dibintangi oleh Johnny Depp dan Angelina Jolie.

Film ini menjadi pilihan karena tidak ada tayangan lain di bioskop XXI yang cukup menggiurkan, baik dari plot cerita maupun aktor/aktris yang membintanginya. Selain itu, rekan saya termasuk salah satu dari jutaan penggemar Depp. Yes, dapat dimaklumi.

Film ini bercerita tentang upaya penangkapan Alexander Pearce oleh Scotland Yard. Diawali dengan adegan pengintaian oleh Scotland Yard terhadap Elise Clifton-Ward (Angelina Jolie), yang mendapatkan surat dari Pearce melalui seorang kurir, untuk menemuinya di suatu tempat. Polisi langsung mengira si kurir adalah Pearce yang menyamar, karena mereka tidak mengetahui bagaimana wajah Pearce yang sesungguhnya pada saat ini. Sialnya, si kurir bukanlah Pearce.

Elise langsung mengikuti perintah Pearce yang didapatkannya melalui surat. Ia berangkat menuju Venice, Italia, dan sesuai petunjuk Pearce, Elise memilih untuk duduk dengan seseorang yang memiliki ciri-ciri fisik yang serupa dengan Pearce. Elise lalu duduk di sebelah, Frank Tupelo, seorang guru Matematika asal Amerika Serikat.

Sesampainya di Italia, Frank diundang untuk ikut ke hotel dimana Elise menginap. Frank justru harus berhadapan dengan sekelompok orang, yang menyangka dirinya adalah Pearce. Kejar-kejaran pun tak terhindarkan, hingga Frank ditangkap polisi, yang justru bersekongkol untuk menyerahkan dirinya. Elise menyelamatkan Pearce dari upaya penangkapan itu, dan menyuruh Frank untuk kembali ke Amerika.

Elise, ternyata adalah seorang intelijen Scotland Yard, yang mendapatkan tugas untuk memata-matai Alexander Pearce. Namun selama satu tahun Elise bertugas, tak ada informasi berharga yang didapatkannya, bahkan tak ada seheleai foto pun. Elise justru jatuh cinta dengan Alexander Pearce, yang telah “mencuri” uang jutaan poundsterling.

Elise akhirnya diculik oleh Shaw, seorang gangster yang uangnya juga telah dicuri oleh Pearce. Ketika dipaksa untuk membuka brankas, Frank datang untuk menyelamatkan Elise. Shaw dan anak buahnya tertembak oleh sniper Scotland Yard, dan Frank berhasil membuka brankas.

Ketika Scotland Yard datang ke hotel tempat brankas itu berada, mereka hanya menemukan brankas kosong, dan cek senilai 744 juta poundsterling, sebesar aset yang mereka incar untuk disita.

Ternyata, Frank Topelo adalah Alexander Pearce, yang telah melakukan operasi plastik terhadap wajahnnya.

YES. I'm a fan of Johnny Depp. Film-film yang dibintanginya, tidak pernah mengecewakan. Depp selalu bisa menghidupkan karakter yang diperankannya. Contoh yang paling baru, tentunya trilogi Pirates of Carribbean, dimana Depp memerankan Captain Jack Sparrow. Film lain, misalnya Edward The Scissorhands; Charlie and the Chocolate Factory; dan masih banyak lainnya.

Angelina Jolie pun terkenal sebagai aktris yang tidak asal-asalan. Terlepas dari berbagai kontroversi yang pernah dibuatnya, Jolie pun sering bermain dalam film-film bermutu. Tomb Raider; Mr. and Mrs. Smith adalah dua contoh film bagus yang melambungkan namanya.

Kedua orang ini digabung, nampaknya akan menjadi jaminan mutu tersendiri.

Sayangnya, tidak demikian dalam The Tourist. Meski film ini tak jelek-jelek amat, baik dari plot dan akting yang ditawarkan, tetapi film ini sejujurnya, below my expectation. Nama Johnny Depp tentunya menawarkan hal tersendiri. Tetapi dalam The Tourist, Depp nampak tidak “kuat” dalam memainkan perannya sebagai Frank Topelo. Depp tidak memerankan tokoh yang lucu, tidak pula memerankan tokoh yang naif, tidak pula memerankan tokoh yang agak sableng. He's just in the middle, yang peranannya dapat anda hilangkan di bagian mana pun.

Kejar-kejaran Frank dengan anak buah Shaw, nampak biasa saja. Atau contoh lain, kedatangan Frank di pesta dansa pun, menjadi tanpa kesan. Padahal seharusnya, adegan itu bisa lebih dramatis, entah sangat lucu, or very annoying. Unfortunately, he's (Depp) just there. Tidak ada yang istimewa dari kehadirannya.

In a movie, you want to watch something that dramatic, and somehow comical. Depp has known to do those things. But not in this movie. Jolie pun nampak datar-datar saja. Entah karena perannya yang mengharuskan dia seperti itu, atau karena kehadiran Johnny Depp tak cukup membantu untuk menaikkan tensi film ini.

There's something missing in this movie. Kalau aktor/aktrisnya bukan sekelas Depp dan Jolie, mungkin dapat dimaklumi. Tetapi, kedua artis ini seharusnya mampu memberikan sajian yang lebih baik ketimbang yang mereka tawarkan dalam The Tourist.

Dengan kondisi seperti itu, The Tourist menjadi sedikit membingungkan. Film ini tidak lucu untuk disebut film komedi, meski ada beberapa adegan yang mengundang tawa, tetapi tetap tidak lucu. Film ini juga jauh dari kategori thriller, karena hampir tidak ada ketegangan yang ditawarkan film ini dari awal hingga akhirnya. Ya, memang ada kejar-kejaran, tapi tentunya jauh dari predikat menegangkan yang ditawarkan oleh umumnya film-film thriller.

The Tourist menjadi pas untuk mengisi waktu senggang. Tetapi, kalau mengharapkan akting yang lebih dari Depp atau Jolie, mungkin harus ditunggu di film kolaborasi mereka selanjutnya.


Director : Florian Henckel von Donnersmarck | Starring : Johnny Depp, Angelina Jolie, Paul Bettany, Timothy Dalton | Release Date : 10 December 2010 | Running Time : 103 minutes

Sherlock Holmes (2009)

6 comments
Saya memiliki sejarah yang tidak terlalu bagus dengan karakter Sherlock Holmes. Bukan karena dirinya tidak memberikan inspirasi bagi saya dalam beberapa hal, melainkan karena proses “pertemuan” saya dengannya yang dapat dikatakan payah.

Ketika orang lain akan mengawali hobinya akan cerita detektif melalui Sherlock Holmes, saya justru mengawalinya dari komik Jepang “Detektif Conan”. Sungguh, komik pernah mengisi hari-hari saya di kala remaja dengan begitu parahnya, dan inilah akibatnya.

Proses terbentuknya identitas Conan Edogawa (karakter utama dalam komik itu), menjadikan saya penasaran terhadap Sir Arthur Conan Doyle beserta karakter fiksi termashyurnya, Sherlock Holmes. Petualangan itupun dimulai.

Buku Sherlock Holmes yang pertama saya beli berjudul “Memoar Sherlock Holmes”, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Dari situlah saya mulai kecanduan akan kemampuan Sherlock Holmes dalam menganalisa sebuah masalah melalui fakta/detil yang terkadang kita lewatkan karena dianggap terlalu sepele.

Sebuah guratan di tangan, bekas noda lumpur di sepatu, bahkan hingga potongan rambut, dapat dijadikan data untuk menuju pada kesimpulan yang luar biasa. Hal inilah yang tidak saya temukan dalam komik “Detektif Conan”.

Nah, ketika saya mendapat kabar bahwa Sherlock Holmes akan diangkat ke layar lebar, ada sedikit rasa harap-harap cemas. Biasanya, sebuah karya fiksi yang bagus, akan kesulitan diangkat menjadi layar lebar. Hal ini dikarenakan tingginya ekspektasi dari si pembaca karya fiksi untuk mendapatkan suguhan yang sesuai dengan imajinasi mereka.

Tentunya hal ini tidak berlaku secara universal, karena tetap saja ada film yang diangkat dari karya fiksi (entah itu komik, ataupun novel) yang sanggup menyamai kesuksesan karya aslinya. Misalnya trilogi Jason Bourne, beberapa film Batman, trilogi X-Men, dan lainnya. Ada pula yang mengalami kegagalan, baik itu kegagalan secara komersial, ataupun kegagalan secara kualitas, seperti : The Celestine Prophecy, Iron Man, Daredevil, dan masih banyak lagi.

Akhirnya, berkat bantuan dunia internet, saya berhasil mendapatkan unduhan film ini meskipun bukan hasil DVD rip. Film ini menceritakan upaya Sherlock Holmes (diperankan oleh Robert Downey Jr.) dan Dr. Watson (Jude Law), untuk menangkap penjahat kelas kakap London yaitu Lord Blackwood yang diduga telah melakukan pembunuhan terhadap lima orang wanita sekaligus diindikasikan melakukan praktik black magic.

Pada awalnya, pasangan detektif ini berhasil menangkap Lord Blackwood dan mencegah pembunuhan keenam. Lord Blackwood kemudian dijebloskan ke dalam bui, dan dijatuhi hukuman mati. Berselang beberapa hari kemudian, seseorang di kuburan melihat Lord Blackwood keluar dari kuburnya layaknya seorang yang hidup kembali. Disinilah petulangan yang sebenarnya bagi Holmes dan Watson untuk memburu Blackwood, dan mencegah terjadinya kepanikan yang lebih besar di London.

Holmes berhasil untuk mengoleksi berbagai data dari berbagai tempat yang akan menunjukkan bagaimana Blackwood dapat melakukan pembunuhan dan berbagai tindakan yang dianggap orang sebagai black magic. Akhir dari film ini tetap memiliki cita rasa Hollywood (meski berlatar London), the bad lose; the good wins; and potential for another sequel.

Pada awalnya, untuk mengantisipasi kekecewaan saya terhadap Sherlock Holmes, saya tidak memasang ekspektasi berlebihan atas film ini. Terutama karena Sherlock Holmes dibintangi oleh Robert Downey Jr, yang menurut saya terlalu “Hollywood” untuk memerankan tokoh berlatar belakang kota London yang suram. Tapi ternyata pesimisme saya tidak terwujud sama sekali.

Robert Downey Jr mampu menghidupkan karakter Holmes dengan sangat baik seperti dalam buku. Dirinya mampu merekonstruksi citra seorang Holmes yang sedikit arogan, logis-rasional, begajulan, perhatiannya terhadap berbagai detil, dan tentunya memiliki kharisma tersendiri. Sementara Jude Law berhasil menjadikan sosok Dr. Watson tak hanya sekedar menjadi sidekick figuran, melainkan sebagai unsur penting yang memberi warna bagi Sherlock Holmes itu sendiri.

Kombinasi keduanya dan penyutradaraan Guy Ritchie menjadikan film ini sebagai suguhan yang telah membuat saya enggan untuk beranjak. Plotnya cepat tapi tidak membuat kebingungan. Dialognya cerdas, namun tak membuat kening berkerut. Ekspresi dan gestur tubuh para karakternya mampu mengundang tawa, tanpa harus menjadi sebuah komedi slapstick.

Selain itu, ada beberapa hal yang sangat menarik perhatian saya selama film ini berjalan. Yang pertama, deskripsi ketika Holmes mengimajinasikan apa yang akan ia lakukan terhadap lawan. Imajinasi ini digambarkan melalui langkah terperinci, setahap demi setahap, dan diperlihatkan dalam slow motion.

Pada akhirnya, ketika Holmes melakukan apa yang ada dipikirannya, semuanya berjalan sesuai dengan rencana. I know, it’s a movie, and a director can do anything that he/she wants. Tetapi bagi saya itu adalah sebuah hal yang sangat bagus untuk menggambarkan bagaimana cara Sherlock Holmes menganalisa keadaan dan kemudian mengeksekusi rencananya.

Sedangkan yang kedua adalah alur maju-mundur yang cepat, khususnya ketika Holmes menjelaskan bagaimana dirinya bisa mengetahui berbagai macam fakta yang membuatnya seakan menjadi “dewa” bagi orang-orang sekitarnya. Meski dibuat dengan alur maju-mundur, namun saya sendiri tidak kesulitan untuk memahaminya.

Jika melihat akhir film, saya cukup yakin bahwa film ini akan dibuat sekuelnya, karena munculnya nama Profesor Moriarty, yang merupakan musuh besar Sherlock Holmes. Apalagi dengan sambutan yang baik dari penonton dan kritikus film, maka sangat besar kemungkinan munculnya sekuel Sherlock Holmes.

Saya menyarankan film ini bagi mereka yang ingin bernostalgia dengan karakter Sherlock Holmes yang telah dipensiunkan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Selain itu, bagi mereka yang bosan dengan rentetan film horor dan cinta, serta menginginkan hiburan yang padat berisi tanpa membuat kening berkerut, ini adalah film yang layak untuk dinikmati.

The Broker - John Grisham (2007)

0 comments
Semenjak saya menginjak bangku kuliah di fakultas hukum, karya-karya milik John Grisham seakan menjadi second textbooks yang bersifat komplementer untuk timbunan buku kuliah lainnya.

Kita seakan belum sah menjadi mahasiswa fakultas hukum jika belum membaca satu saja karya John Grisham. “Grisham” memang seakan menjadi sinonim bagi genre legal thriller, meski tak dapat dipungkiri bahwa ada beberapa penulis lain yang ikut “bermain” dalam genre ini, misalnya Scott Turow, Harper Lee, Irving Wallace, dan masih banyak lagi (lihat : http://en.wikipedia.org/wiki/Legal_thriller).

Novelnya pun tak sedikit yang diangkat ke layar lebar, seperti The Firm, The Client, hingga The Rainmaker.

Dalam beberapa karyanya, Grisham pernah sedikit melenceng dari jalurnya sebagai penulis legal thriller, misalnya melalui A Painted House, Bleachers, dan Skipping Christmas. Kesemuanya juga masih bisa masuk jajaran best-seller seperti novel-novel Grisham sebelumnya. Langkah ini kemudian dia lakukan lagi melalui novel The Broker, yang lebih mirip novel spionase, meskipun si karakter utamanya memiliki pekerjaan sebagai seorang pengacara.

The Broker menceritakan tentang seorang pengacara sekaligus power broker kelas kakap di Washington DC, yaitu Joel Backman, yang mendapatkan grasi dari Presiden Amerika Serikat (AS). Dirinya dianggap memiliki perangkat lunak yang dapat membahayakan keamanan nasional AS (national security) apabila perangkat itu dijual pada pihak lain yang berpotensi untuk mengganggu stabilitas AS.

Konsekuensi dari diberikannya grasi, Joel Backman harus hidup dengan identitas lain di belahan bumi lain, agar pihak-pihak yang berkepentingan dengan Joel Backman kesulitan untuk melacaknya. Namun itu semua hanyalah bagian dari skenario CIA, yang sesungguhnya justru menginginkan agar Joel Backman dibunuh.

CIA sendiri terhalang undang-undang federal AS yang melarang pembunuhan atas warga negara AS meskipun dengan alasan national security. Akhirnya CIA justru membocorkan informasi mengenai identitas baru Backman kepada badan-badan intelijen negara lain.

Saya cukup sering membaca novel spionase karya Tom Clancy, Robert Ludlum, ataupun David Baldacci. Ketiganya mampu mengonstruksikan spionase melalui racikan kalimat-kalimat dalam novelnya, sehingga pembaca seakan turut serta dalam proses spionase. Ketiganya pun mampu untuk membangun latar belakang cerita, lengkap dengan berbagai perangkat spionase dan kultur spionase itu sendiri, sehingga kita seakan mendapatkan edukasi mengenai spionase tanpa harus mengerutkan kening di ruang kuliah. Sayangnya, John Grisham tidak mampu melakukan hal-hal itu dalam novelnya kali ini.

Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang ber-genre legal thriller, Grisham seakan kehilangan taringnya ketika menulis novel ini. Gaya penceritaannya memang masih merepresentasikan Grisham, namun seakan kurang berbobot. Apabila Grisham mampu membangkitkan suasana ruang persidangan dalam A Time To Kill, dan membuat orang membayangkan pekerjaan pengacara dengan baik melalui The Firm, dirinya justru gagal untuk membangun suasana spionase dalam novel ini.

Grisham tak mengelaborasi lebih dalam mengenai proses perlindungan saksi yang berada dalam naungan intelijen. Padahal disitulah letak kekuatan dari novel spionase, yang mengutamakan pentingnya abstraksi terhadap identitas.

Lalu, perangkat lunak bernama JAM yang menjadi sumber masalah bagi Joel Backman seakan hanya menjadi cerita sampingan belaka. Jika JAM bisa digali lebih jauh, entah itu dengan fakta-fakta terkini di lapangan intelijen, atau sekedar menceritakan sejarahnya (misalnya ada sebuah sistem yang agak mirip), kita bisa lebih menikmati fantasi terhadap dunia spionase dengan lebih baik.

Satu hal yang yang juga terlewatkan, konspirasi. Novel spionase tak akan jauh-jauh berpaling dari tema ini, yang dapat dilihat dari ketiga penulis novel spionase yang telah saya sebutkan tadi. Grisham agak kedodoran mengangkat suasana konspirasi dalam karyanya ini, sehingga menjadikan karakter-karakter di sekitar Joel Backman hanya sekedar angin lalu saja. Padahal, sesungguhnya, banyak karakter di sekitar Backman yang sangat berpotensi untuk menjadikan plot cerita lebih konspiratif.

Grisham sendiri seakan melakukan pembelaan terhadap bukunya ini melalui catatan di bagian akhir novelnya. Dia mengakui bahwa dia tidak mengetahui apapun soal spionase, baik itu alat pengintaian, alat penyadap, smartphone, dan lainnya.

Padahal Sidney Sheldon, seorang penulis novel all around, yang jarang menulis tentang spionase dan konspirasi atau tema-tema berat lainnya, justru mampu membangun cerita yang sangat baik melalui The Doomsday Conspiracy. Bahkan Sidney Sheldon melakukan riset yang cukup mendalam untuk menulis karyanya itu.

Apakah John Grisham terlalu malas untuk melakukan riset mengenai spionase dan konspirasi? Entahlah. Dirinya sendiri menyatakan bahwa “riset” adalah sebuah kata yang terlalu berlebihan. Menurut saya, novel ini tak ubahnya pengejaran terhadap seorang kriminal yang diberikan sedikit *sangat sedikit* bumbu spionase.

Kebetulan saja yang mengejar kriminal itu adalah badan-badan intelijen. Apabila CIA, Mossad, ataupun seluruh badan intelijen dalam novel ini dihilangkan, dan diganti dengan organisasi lain, maka jalan ceritanya tak akan terlalu banyak berpengaruh.

Bagi anda yang belum mengenal karya-karya Grisham secara, khususnya melalui novel ber-genre legal thriller, saya tidak menyarankan untuk membaca The Broker sebagai inisiasi. Bagi anda yang sudah menjadi pecandu John Grisham, bersiap-siaplah untuk kecewa.

The Lost Symbol (Dan Brown)

3 comments
Buku ini merupakan novel kelima Dan Brown, dan novel ketiga yang menghadirkan Robert Langdon sebagai karakter utamanya (setelah Angels & Demons, dan The DaVinci Code). Dalam karyanya kali ini, Dan Brown menceritakan bagaimana Robert Langdon kembali harus berurusan dengan perkumpulan kontroversial, lambang-lambang esoterik, dan tentunya karakter psikopat yang terinspirasi oleh sebuah cerita kuno.

Robert Langdon harus memecahkan serangkaian teka-teki dari si psikopat, yang didasarkan pada berbagai ikon Freemason di seputar Washington DC. Freemason sendiri dijadikan sebagai sebuah latar belakang cerita yang cukup kuat, karena sifatnya yang esoterik sekaligus mengundang kontroversi di kalangan masyarakat akibat sifat eksklusif-nya yang sulit ditembus.

Langdon dan seorang rekannya yang bertemu secara tak sengaja, Katherine Solomon, harus berpacu dengan waktu untuk memberikan sesuatu yang dicari oleh si psikopat bernama Mal’akh. Apabila tidak bisa terpenuhi, maka Peter Solomon, rekan Langdon sekaligus saudara laki-laki Katherine akan dibunuh.

Mal’akh menginginkan rahasia terbesar milik kaum Freemason yang menurutnya tersembunyi di salah satu ikon Freemason yang dibangun oleh founding fathers Amerika Serikat (AS) di Washington DC. Tidak jauh dari pengalaman Langdon sebelumnya di Eropa, dirinya harus keluar masuk berbagai bangunan-bangunan yang ternyata memiliki sarat makna, dan juga simbolisme-simbolisme Mason yang tersebar dimana-mana.

Karakter dari cerita kali ini sebenarnya tak jauh berbeda dengan 2 (dua) cerita Langdon sebelumnya. Selalu ada perkumpulan rahasia (meski Freemason dibela dengan sebutan “perkumpulan yang memiliki rahasia”), selalu ada psikopat yang merasa dirinya paling benar dan tak segan untuk melakukan kekerasan untuk memenuhi keinginannya, selalu ada aparat berwenang yang justru menjadi musuh Langdon, dan selalu ada wanita pintar, cantik, yang entah bagaimana turut terlibat masalah bersama Langdon.

Jadi yang membuatnya berbeda hanyalah obyek dan lokasinya saja. Apabila Angels & Demons dan The DaVinci Code mengambil setting di Eropa, maka The Lost Symbol mengambil setting di AS. Apabila Angels & Demons berujung pada simbol sakral Illuminati, dan The DaVinci Code berujung pada Cawan Suci, maka The Lost Symbol berujung pada rahasia besar Freemason.

Saya sendiri sudah bisa menebak akhir dari The Lost Symbol ketika saya sudah mencapai pertengahan buku, termasuk siapa saja karakter yang turut “berkonspirasi” untuk menjebak Langdon. Bukan karena saya hebat menebak, hanya saja gaya penceritaan Dan Brown memang tak jauh berbeda dari satu cerita ke cerita yang lain. Sehingga sangat mudah untuk memahami bagaimana Dan Brown membangun alur cerita sekaligus karakterisasi dari tokoh-tokoh didalamnya.

Akhir cerita yang mudah ditebak memang akan membuat kita malas untuk meneruskannya, namun saya sendiri bertahan untuk menyelesaikan novel ini. Bukan karena ceritanya yang makin menarik, melainkan deskripsi Dan Brown atas berbagai bangunan, ikon, simbol, dan monumen yang ada di AS khususnya Washington DC, yang membuat saya penasaran dan mengkhayal lebih jauh.

Menurut saya, disitulah letak kekuatan novel-novel Dan Brown. Dia mampu meracik hal-hal yang selama ini berada di sekitar masyarakat namun sudah terlanjur terselubung oleh berbagai mitos dan kejadian sehingga menghilangkan makna aslinya.

Selain itu dirinya mengungkapkan berbagai fakta yang selama ini terpinggirkan dari sejarah. Misalnya, deskripsi atas Capitol Building sangatlah menarik dan spesifik, sehingga mengundang pembaca untuk membayangkannya, dan kalau perlu melakukan riset kecil-kecilan untuk membuktikan gambaran dari Dan Brown.

Lalu dia menceritakan bagaimana kawasan AS bagian Timur sesungguhnya akan dinamai seperti wilayah-wilayah legendaris di belahan dunia lain, misalnya Washington DC yang akan dinamakan Roma, Sungai Potomac yang akan dinamakan Sungai Tiber, dan lainnya.

Yang lebih membuat cerita ini mengalir, Dan Brown tidak menuliskan informasi-informasi itu dalam bentuk narasi orang ketiga (yang akan menimbulkan kesan textbook dan terlalu ilmiah), melainkan dibangun melalui dialog-dialog dengan alur mundur yang cukup mengubah suasana cerita.

Tentunya, semua itu diawali dari formula utama Dan Brown, kontroversi. Dirinya berani untuk mengangkat hal-hal yang selama ini menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat, dan tak jarang membuat pihak-pihak tertentu merasa tersinggung.

Topik yang diangkatnya kali ini pun akan tetap mengundang kontroversi, karena Freemason sudah terlanjur terstigma sebagai organisasi persaudaraan yang ingin membuat adanya sebuah “New World Order” yang lekat dengan interpretasi atas kedatangan Dajjal.

Saya merekomendasikan buku terbaru dari Dan Brown ini untuk mereka yang ingin mengetahui sejarah lain dari AS khususnya wilayah Washington DC, atau mereka yang sekedar ingin mengisi waktu luang dengan cerita yang sedikit berbobot. Namun bagi mereka yang mengharapkan adanya thriller yang menegangkan, jangan terlalu berharap banyak atas buku ini.